Minggu, 06 Januari 2013

Kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi


JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi Km 3+350, Senin silam, yang melibatkan putra Menteri Koordinator Perekonomian RI Hatta Rajasa menjadi sorotan.

Polri, institusi yang menangani kasus kecelakaan berujung tewasnya dua orang tersebut, dianggap pilih kasih terhadap penanganan anak menteri itu.

Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Adrianus Meliala menegaskan, perilaku demikian dapat menggerus kepercayaan publik kepada institusi seragam cokelat tersebut.

Menurutnya, Polri merugi jika terlalu terlihat "pasang badan" hanya bagi kasus kecelakaan maut anak menteri.

"Polri jangan menggerus tabungannya sendiri. Tabungan social capital. Rugi jika Polri terlalu banyak pasang badan hanya kepada anak Hatta Rajasa," ujarnya saat ditemui wartawan di Mapolres Jakarta Timur, Kamis (3/1/2013).

Di sisi lain, pria yang juga mengajar sebagai kriminolog di Universitas Indonesia tersebut turut menyayangkan ketidakkonsiste
­nan masyarakat atas asas supremasi hukum dalam kasus insiden maut anak menteri itu. Pasalnya, perspektif itu tak digunakan masyarakat dalam memandang beberapa kasus pernah yang terjadi di negeri ini.

"Seperti kasus nenek-nenek yang mencuri cokelat. Kita sendiri yang bilang, hey polisi pakai mata hati dong. Harusnya masyarakat konsisten dengan itu," lanjutnya.

Oleh sebab itu, ia menambahkan, penanganan spesial kepada putra besan Presiden RI itu bukanlah sesuatu yang direspons berlebihan oleh publik.

Menurutnya, kondisi serupa merupakan hal alamiah yang bukan hanya terjadi pada anak pejabat, melainkan juga kepada masyarakat umum. Adrianus mencontohkan bagi masyarakat umum yang berhadapan dengan hukum. Jika anggota masyarakat itu memiliki kedekatan dengan polisi, ia yakin orang yang berhadapan dengan hukum akan mencoba meminta bantuan pada polisi.

Menurut Adrianus, perilaku Polri masih dalam tahap kewajaran dan ia juga mewanti-wanti institusi berseragam cokelat tersebut untuk profesional. Adrianus menegaskan, Polri harus tetap menonjolkan proses hukum yang benar ketimbang perlakuan spesial bagi anak menteri yang kini telah menjadi tersangka itu.

"Perlakuan bisa sedikit-sedikit­ longgarlah, tapi proses hukum harus dipastikan berjalan," lanjut Adrianus.

Sebelumnya, mobil BMW B 272 HR yang dikemudikan M Rasyid Amrullah, putra Hatta Rajasa, terlibat kecelakaan dengan sebuah angkutan berpelat hitam Daihatsu Luxio F 1622 CY di Tol Jagorawi, Km 3+3500, arah Bogor. Dua penumpang Luxio tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam insiden maut tersebut.

Perjalanan kasus itu menjadi sorotan. Pasalnya, tak hanya melibatkan anak menteri, Rasyid tampak mendapatkan perlakuan khusus dari aparat kepolisian. Misalnya, ia tidak dirawat di Rumah Sakit Polri Bhayangkara, tetapi di President Suite Room Rumah Sakit Pertamina. Berbeda dengan kasus serupa yang terjadi sebelumnya. Ada apa dengan pihak kepolisian?


http://gudanginfor.blogspot.com/

Tidak ada komentar: